Cara Hacker Mengambil Uang di Rekening Orang Lain, Waspada!

*Artikel diperbarui pada 10 November 2021

Bagaimana cara mengambil uang di rekening orang lain? Hacker bisa memindahkan saldo dari rekening kamu ke rekening mereka dalam waktu singkat. Berikut ini adalah modus yang digunakan untuk mengambil uang di rekening orang lain.

Berhati-hatilah saat bertransaksi menggunakan nomor rekneing kamu. Kini banyak kasus pembobolan akun menggunakan berbagai metode baru yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Hacker menggunakan metode-metode yang melibatkan transaksi elektronik seperti internet banking dan mobile banking.

Meskipun hacker bisa juga menyasar pengguna ATM, namun jarang sekali hacker mengambil uang di rekening orang lain melalui mesin ATM.

Berikut ini adalah cara hacker mengambil uang di rekening orang lain tanpa harus bertemu dengan kamu secara langsung.

#1. Perangkat lunak palsu untuk mengalihkan (redirecting) e-banking

Ada kasus kebangkrutan di Jakarta. Beberapa nasabah 3 bank besar terlibat kerugian hingga Rp 130 miliar. Modusnya adalah penggunaan internet banking.

Pelaku menggunakan malware khusus yang dapat mengganggu transaksi nasabah sehingga dana bisa masuk ke rekening penipu.

Pelaku membajak rekening internet banking nasabah sehingga pada saat nasabah menyetorkan uang ke rekeningnya, aliran uang tidak masuk ke rekening nasabah melainkan ke pelaku.

Menurut penyelidikan, pelaku penipuan tidak berasal dari dalam negeri. Menurut penyelidikan polisi, dana yang hilang mengalir ke rekening yang terdaftar di Ukraina.

Hanya saja pelaku menggunakan jasa “kurir” yang merupakan warga negara Indonesia untuk melakukan aksinya.

Bahkan pihak kurir pun tidak mengetahui adanya penipuan ini, karena pelaku menawarkan kerjasama dengan godaan keuntungan 10 persen untuk setiap transaksi yang masuk.

#2. Pencurian kartu kredit dengan penelepon yang salah

Modus penipuan selanjutnya adalah membobol kartu kredit nasabah menggunakan aplikasi penelepon palsu.

Baca juga:  Cara Buat Google Form 2021 Panduan Lengkap Dengan Gambar

Nomor telepon yang diberikan di ponsel korban adalah nomor resmi bank, sehingga korban lebih mudah percaya.

Aplikasi ini telah diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika, namun tetap dapat diakses melalui VPN (Virtual Private Network) tertentu.

Pelaku menyebut korban sebagai bank kemudian menanyakan nomor CVV dan masa berlaku kartu.

Selanjutnya, pelaku menanyakan kepada korban apakah benar korban baru saja melakukan transaksi tertentu yang tidak pernah terjadi.

Korban yang merasa belum melakukan transaksi kemudian akan diminta untuk membatalkan dengan alasan keamanan.

Hal ini membuat para korban percaya karena mereka merasa bank melindungi mereka. Korban kemudian akan diminta untuk memberikan kode OTP yang dikirimkan ke nomor ponsel korban.

Kode tersebut kemudian digunakan oleh pelaku untuk menyelesaikan transaksi, yang biayanya ditagihkan kepada korban.

#3. Membajak email untuk mengambil uang di rekening orang lain

Development Bank of Singapore (DBS) menderita kerugian $1,86 juta akibat pembajakan email nasabah bank tersebut.

Rekening yang menjadi korban penipuan ini adalah atas nama Green Palm Capital dan Dali Agro Corps. Transaksi dilaporkan tanpa sepengetahuan pemegang rekening.

Bank membayar dana dengan nilai nominal di atas setelah menerima email dari pelanggan yang meminta penarikan tunai.

Karena email tersebut dari nasabah yang sah, bank juga akan melakukan transaksi yang diminta. Uang yang dibayarkan kemudian ditransfer ke rekening di 3 negara yaitu Indonesia, China dan Hong Kong.

Menurut penyelidikan, pelaku utama adalah sindikat bernama Nigeria karena berasal dari negara itu.

Pelaku adalah seorang wanita berinisial BFH, istri warga negara Nigeria, MCI.

MCI meminta istrinya membuka rekening atas nama orang lain di sejumlah negara. Kejahatan tersebut dilakukan dengan membajak email nasabah yang meminta bank untuk menarik uangnya.

Baca juga:  Rahasia Agar Baterai Hp Android Awet dan Tahan Lama Tanpa Aplikasi

#4. Transaksi melalui EDC pun rawan pencurian uang di rekening

Penipuan akun juga dapat dilakukan dengan menggunakan perangkat electronic data capture (EDC), yang sering ditemukan di toko atau outlet yang menawarkan pembayaran dengan kartu.

Menurut kasus di Jakarta, pelakunya adalah mantan pegawai bank.

Pelaku pernah bekerja di bagian Pemasaran Mesin EDC. Salah satu pelanggannya adalah perusahaan percetakan.

Karena sewa tambahan, pelanggan memutuskan untuk berhenti bekerja dengan mesin EDC bank. Semua mesin yang seharusnya dikembalikan ternyata disewakan oleh pelaku.

Pelaku membuat saran palsu, yang tampaknya ditulis oleh pelanggan, mengenai transfer rekening untuk menahan dana. Mesin EDC tersebut kemudian disewakan ke sejumlah toko.

Pelaku juga menggunakan nama pelanggan untuk menanyakan mesin lain. Tersangka mendapat keuntungan dari biaya sewa EDC yang berkisar antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per bulan.

Bank mengalami kerugian yang sangat besar akibat modus penipuan ini.

#5. Metode skimming untuk pembobolan rekening

Beberapa nasabah bank pemerintah di Indonesia pernah mengalami pembobolan ATM, diduga menggunakan metode skimming, dan penarikan dananya ke luar negeri. Menurut pakar IT, metode skimming sudah ada sejak lama.

Konsorsium penyusupan ATM melalui skimming berasal dari luar negeri. Namun mereka juga memiliki tim operasional yang bekerja di Indonesia.

Hal ini terlihat pada pencairan dana yang tidak pernah dibulatkan, disertai dengan potongan biaya pengelolaan

Skimming dilakukan dengan memasang alat khusus yang dapat menyalin nomor kartu ATM nasabah dan kamera pengintai PIN pad ATM.

Setelah pelaku menerima nomor ATM dan PIN korban, hal ini dibandingkan dengan catatan waktu pencatatan. Pelaku dapat memasukkan nomor ATM dan PIN korban ke dalam kartu kosong dan menggunakannya untuk melakukan transaksi.

Baca juga:  8+ Cara Menghasilkan Uang Dengan Bermain Game 2021

#6. Tebak kata sandi ATM

Penipuan selanjutnya tidak lain dilakukan oleh pegawai bank pemerintah. Pelaku mengosongkan uang di ATM korban hanya dengan menebak PIN ATM dan berhasil.

Semua berawal saat pelaku menerima kartu ATM yang jatuh di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta.

Karena pelaku adalah pegawai bank yang bersangkutan, maka dia memiliki akses untuk membuka data nasabah. Dari situ, pelaku berhasil mengetahui tanggal lahirnya.

Pelaku mencoba memasukkan tanggal lahir sebagai PIN ATM dan berhasil.

Pelaku kemudian membuang isi ATM korban hingga Rp44 juta untuk membeli dua buah ponsel, sepasang sandal dan tarik tunai Rp10 juta.

Pahami Cara Hacker Mengambil Uang di Rekening Orang Lain, Jangan Jadi Korban Berikutnya

Memahami bagaimana cara hacker bekerja untuk mengambil uang di rekening orang lain bisa mencegah kejahatan terjadi pada kamu.

Umumnya, bank yang menyediakan layanan internet banking dan mobile banking memberikan peringatan-peringatan secara berkala.

Jika kamu melakukan transaksi dalam jumlah besar dengan pola yang tidak biasa, biasanya bank akan menghubungi kamu untuk memverifikasi transaksi.

Semoga informasi ini bermanfaat.